Kamis, 15 Januari 2026

Aku maafkan diriku karena aku udah ga excited lagi dengan hidup

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 22.40 0 komentar

Aku pergi sama temenku.

Dia semangat berdiskusi tentang banyak hal.

Aku hanya diam mendengar dia. Terdiam. Otakku kosong.

 Tapi aku maafkan diriku, aku sedang ngerasa kosong sekarang. 

 Aku ga bahagia dengan hidupku

Rasanya cuma berjalan tanpa arah hidup

Bahkan untuk ibadah aja aku udah ga semangat. 

Menurutku ini bukan perasaan orang pada umumnya.

Biasanya orang berjalan dengan mudah, jalan aja. Mereka kena suatu informasi kemudian mereka pasti bisa cepat bangkit. 

Namun, aku benar-benar udah gak ada tenaga lagi.

Aku gatau aku hidup untuk siapa 

Rabu, 14 Januari 2026

Aku maafin diriku, karena aku keluar dari kelompok mereka dan mereka buat kelompok sendiri tanpa aku

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 20.07 0 komentar

 Aku buka instagram. 

Dan aku lihat foto 5 orang.

4 perempuan 1 laki-laki

Aku akan ganti namanya, namun aku pengen sekali menyebutkan agar hati ini plong.

1 perempuan namanya tata, tata ini dulu sedekat nadi denganku, kemana-mana sama-sama. Namun diperjalanan aku tidak nyaman dengan cara dia berteman denganku. Aku merasa di kontrol, dimaklumi palsu. Sampai ditahap, ternyata, kehilangan ku tidak terlalu berpengaruh. Akhirnya dia masuk ke dalam grup 2 perempuan lainnya. 

2 perempuan ini, dulu ia hina-hina. Dibilangnya pemalas. dibilangnya ga berjuang. Dibilangnya lihat aja giman akhirnya studynya kalau tidak berjuang seperti itu. Tapi skrg mereka deket. Sampai berfoto bareng. Yang dulu janjinya, fotonya itu sama aku.

dan ternyata grup mereka bertambah. 

1 laki-laki

1 laki-laki yang menghacurkan masa-masaku pada saat aku s1.

Lagi-lagi dia masuk lagi ke teman-temanku di s2

Berteman, befoto bersama. 

Ini loop aku. 

 dengan orang yang sama.

Ya Allah rasanya menyakitkan kali dikhianati sm temen sendiri. 

------------------------------

Its okay that i'm mad and shock rn

2 years together just when out the drain like that

dan kamu kecewa pasti

Gak ada yang paham rasa kecewa ini kecuali kamu.

Kamu gak sendiri. Kamu ada aku kok

Aku yg ada buat kamu selamanya

Hanya aku sahabat kamu 

aku dan Allah  

 

Aku maafkan diriku karena ga bisa hadir 100% untuk temanku

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 17.11 0 komentar

 Aku mau hadir untuk temanku.

Aku gamau jadi teman yang suka ngilang ketika temen lagi butuh.

Tapi, sejujurnya aku juga sedang tidak baik-baik aja 

Aku lagi ga ada kapasitas untuk bantu siapapun.

Aku lelah mental dan fisik.

Dan aku merasa bersalah karena ga bisa bantu temenku.

Dan aku maafkan diriku, karena aku ga bisa bantu dia.

Hari ini aku padahal udah janji ngelakuin untuk diriku.

Tapi, aku ini selalu ga egois untuk diriku sendiri. Selalu aja. 

 

Kalau aku ga bantu temenku, bukan berarti aku orang jahat.

Kalau temenku minta bantuan tapi aku ga bisa nyediakan bukan berarti aku teman yang jahat.

Bismillah. 

Nia kamu teman yang baik.  

Selasa, 13 Januari 2026

Aku memaafkan diriku karena aku sudah mengizinkan orang lain menekan psikologisku

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 05.33 0 komentar

Hari ini aku menyadari, kalau selama 2 tahun ini aku sudah mengizinkan banyak orang mengambil energi didiriku, sehingga aku tidak memiliki sisa untuk tubuhku sendiri.

 Aku sudah terlalu banyak menginvestasikan energiku untuk orang lain, yang sebenernya juga tidak begitu menyadari pejuanganku.

Mungkin mereka sibuk dengan investasi mereka sendiri, sehingga lupa bahwa aku juga banyak menyiramkan energiku kepada mereka.

dan saatnya aku berhenti. 

Aku memaafkan diriku, aku maafkan karena aku sudah melakukan kesia-siaan hingga badanku sakit.

Aku memaafkan diriku, karena aku belum mau memulai merakit masa depanku, karena aku juga sedang memproses banyak emosiku yang sudah terpendam.

Aku memaafkan diriku karena aku belum mau berjuang, hanya mau diam dan mencerna semua yang terjadi kepadaku.

Aku memaafkan diriku, karena psikologisku tertekan. 

Aku memaafkan diriku karena aku juga menyusahkan orang-orang lain, karena keterbatasanku masa mereka juga terkena imbasnya.

Aku memaafkan diriku karena sudah lalai terhadap tanggung jawab atas diriku.

Mulai hari ini aku akan mengerjakan kewajibanku, agar aku bisa menjadi siapa jati diriku sebenernya.

Aku memaafkan semua yang terjadi kemarin. 

I'm moving forward insha Allah 

Minggu, 11 Januari 2026

Aku maafin diriku karena aku ga ngumpulin revisi tepat waktu

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 19.48 0 komentar

Aku diminta untuk kumpulin revisi tanggal 9 Januari

Aku baru ujian 7 Januari pukul 14.00 - 16.00

Info paling lama ngumpul revisi tanggal 9 baru diinformasikan pada tanggal 8 Januari  pukul 13.00

Jadi kurang lebih aku punya waktu 1 setemgah hari untuk merevisi semua laporanku yang sangat-sangat banyak (9 kasus, dengan perubahan format) 

 Mendengar itu aku shock dan takut.

Pikiran otomatisku aku gak bisa, dan aku pasti ujian ulang. 

Pikiran otomatisku ini, muncul kemudian gak aku proses dengan baik. Jadi selama 2 hari aku sibuk memperbaiki laporanku dengan pikiran bahwa aku pasti ujian ulang, tapi aku berusaha untuk "menyempurnakan" hasilku. 

 Disini aku merasa sendiri. Ga ada 1 manusia pun yang bantu aku. 

 Sampai akhirnya aku ga mengumpulkan pada tanggal 9. Karena aku bersikeras kalau sepertinya dosen aku menjebak aku supaya aku ujian ulang dan semua pikiran-pikiran itu muncul. 

Hingga akhirnya, di tanggal 12, dengan semua laporanku yang gak ada yang siap. Gak ada yang aku revisi dengan bermakna.

Karena walaupun aku tau standarku tinggi, tapi badanku menolak mengerjakannya. Disitu aku berserah.  

Disini aku menyadari, kalau aku menyalahkan kompetensiku. Bahwa yang aku kerjakan salah semua. Bahwa laporan yang ku buat jelek. Bahwa semua yang kubuat salah dan tidak sesuai prosedur.  

Sekarang saatnya aku memaafkan diriku

1. Aku memaafkan proses perkuliahanku selama ini. Maaf  karena dulu Nia banyak takutnya. Jadinya Nia ambil keputusan semua dalam keadaan takut, jadi ga jernih dan ga sesuai prosedur

2. Maafkan karena Nia ga mampu mengerjakan laporan revisi sesuai dengan keinginan dosen, dengan waktu 2 hari. Maaf kan yaa... Maaf kapasitas badan dan pikiran Nia gabisa memenuhu keinginan ornag lain walaupun Nia pengen banget..

3.  Maaf kan karena Nia gampang menyerah. Ga sekuat yang Nia inginkan. Bisa cepat bangkit ketika ada masalah. Maaf ya..

4. Maafin semua kesalahan yang Nia lakukan dimasa lalu. Maafkan karena Nia cuma mampu berperilaku sesuai dengan kesadaran Nia pada waktu itu.  


Hal yang aku mulai terima:

1. Aku terima kalau aku Allah takdirkan untuk ujian ulang

2. Aku terima kalau nanti aku dimarahi oleh dosen eksternal & dosen pendampingku karena hasil revisiku yang tidak bagus

3. Aku terima semuanya dengan lapang dada dan welas asih terhadap diriku.

 

dan aku mau berterima kasih kepada Nia, karena sudah bertahan sampai disini. Karena kemarin itu berat. dan Nia hampir bunuh diri. Tapi Nia ga melakukannya.  

 

Jumat, 09 Januari 2026

Learning to not be hard on myself

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 20.34 0 komentar

 Di tahun 2026 aku mau belajar untuk ga terlalu keras sama diriku sendiri.

Tahun lalu, aku merasa energi dari luar keras banget sama diriku. 

Orang tuaku

temen-temen dekatku

 Tahun ini aku mau melihat diriku sebagai cermin. Ketika orang diluar keras sama aku, aku melihat lagi gimana aku dengan diriku. 

 Ternyata aku keras. 

Aku suka mengkritik diriku. Suka juga menyesal terhadap perbuatan yang telah aku buat. Aku juga suka menyalah-nyalahkan diriku.  

Tahun ini aku mau STOP.

Ada beberapa langkah yang akan aku mulai setiap harinya:

Setiap malam aku akan jurnaling, dan memaafkan diriku setiap harinya. Sambil berdoa sama Allah. Setiap harinya. 

 Wish me luck 

Jumat, 12 Desember 2025

Being controlled

Diposting oleh Chairunissa Syafwinia N di 03.17 0 komentar

Today, lagi-lagi aku diuji.

Beberapa hari lalu, aku dapet suatu pola buruk dalam diriku. 

Sifat yang cenderung people pleaser, butuh validasi, gaenakan.

Kalau orang udah ga senang sama aku, aku pasti bakalan down se down downnya. 

Makanya aku cenderung sering di kontrol sama orang lain

-

Hari ini Allah kasih aku ujian dari teman dekatku.

Aku udah nyusun rencana untuk melakukan sesuatu hal. Aku udah buat dan aku udah rencanain untuk ga cerita ke siapa-siapa tentang rencana itu.

Alasannya, karena sebenernya aku capek cerita-cerita ke orang lain.

Energinya akan berubah kalau aku cerita-cerita ke orang lain.

Lebih baik aku simpan sendiri aja sampai bener-bener terjadi. 

Namun ternyata, karena hal yang ga aku lakukan, ada tugas yang ga aku kerjakan. 

 

((Update))) 

 

Well shit. tulisan diatas sepertinya aku tulis bulan-bulan lalu tepatnya bulan September (saat ini sudah bulan Desember)

Ternyata aku memang mengulang pola yang sama.

Di kontrol oleh orang terdekat., Kelihatannya peduli tapi sebenernya mengkontrol bukan untuk kebaikanku, tapi untuk manfaat diriNya. 

Ternyata selama 2 tahun ini aku jatuh lagi persahabtan toxic, dimana adanya codependency. Aku bergantung secara emotional terhadap temen dekatku, dengan kata lain aku ngerasa aku ini ga mampu sendiri dan hanya dia yang mampu bantu aku. 

Oh was i wrong.

Ternyata selama ini yang menarik aku untuk tidak maju adalah dia. dengan cara menakut-nakuti, menceritakan kisah orang-orang kepadaku dan buat aku overthinking sehingga aku gamau maju tapi mempersiapkan hal yang aku sendiri ngerasa takut mempersiapkannya.  Mengkontrol setiap hal yang aku lakukan. Memarahi aku jika aku ada salah. Tapi ketika aku sedih, dia seolah-olah memelukku.

 Hancurnya ketika tau orang yang kita sayangi ternyata orang yang memanfaatkan kebaikan kita. 

Aku bersyukur, Allah bener-bener membukakan mataku 2 bulan menuju kelulusan. 

Aku akan menyadari dan memutus pula codependency ini. Hal ini aku lakukan karena hidupku adalah tanggung jawabku., aku bisa berdiri di kakiku sendiri, dengan dukungan tangan-tangan yang tulus dan menyayangiku untuk diriku.

 Terima kasih Allah sudah menaikkan frekuensiku untuk bertemu dengan orang-orang yang sevibrasi denganku <3

 

 

aesthetically pleasing Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

>